Jakarta TRIBUNNEWS.COM- “Ketika orang mendengar Masjid Agung Al Azhar, Anda harus mengingat sosok Buya Hamka,” kata Haji Yahya (55 tahun), kepala urusan keluarga di Masjid Agung Al-Azhar. -Mengapa Buya Hamka sama dengan Agung Al Azhar?

Di masjid yang megah, Buya Hamka berjuang untuk pendidikan Islam ketika Indonesia mengalami masa setelah era orde lama. Nama terbesar adalah Buya Hamka.

Membaca: Di belakang nama Masjid Agung Al Azhar, itu melambangkan persahabatan antara Buya Hamka dan kepala Mesir

Membaca: Mengunjungi mantan kekasih Evelyn Terkejut Lihat Ketentuan, penulis Roy Kiyoshi, Drop, muntah, menyuntikkan vitamin– – Yahya berkata: “Karena sejarahnya, pertumbuhannya membuatnya menjadi Masjid Agung Al-Azhar.”

Sebelum Buya Hamka meninggal pada tahun 1981, nama aslinya adalah Abdul Malik Abdul Malik Karim Amrullah (Abdul Malik Karim Amrullah) tinggal tidak jauh dari Masjid Agung Al-Azhar.

Setiap hari, Buya Hamka belajar dari jemaat, terutama setelah sholat Subuh.

Bacaan: Pasien Covid-19 yang baru muncul di Kota Shulan dan Kota Wuhan dan beralih ke penguncian

Bacaan: Seberapa pasti Ha tahun ini? Apakah kamu mempunyai? Pemerintah, tolong tunggu hingga 20 Mei- “Buya Hamka adalah tokoh agama yang membuat masjid berkembang. Oleh karena itu, dia adalah Imam Doa Fajar di Masjid Agung Al-Azhar. Dia memimpin Masjid. Dia berdoa kepada Subuh setiap hari, “sampai dia mati,” kata Ahaya.

Ahaya menjelaskan bahwa sejauh ini, pembelajaran masih berlangsung. Kecuali perjuangan BuyaHamka .— -Pelajaran hampir setiap hari. Menurut Yahya, 1000 umat biasanya berpartisipasi dalam studi ini.

Apakah Anda memiliki pertanyaan tentang Islam dan Ramadhan? Anda dapat mengajukan pertanyaan dan langsung berkonsultasi dengan konsultasi Islam Ust Zul Ashfi (SSI, Lc) -Kirim permintaan Anda ke Consultation@tribunnews.com- informasi lebih lanjut tentang bagian konsultasi Islam Tribunnews.com