Reporter Tribunnews.com Jakarta Eko Sutriyanto melaporkan-TRIBUNNEWS.COM, Jakarta-Ibu-ibu jaman sekarang harus ekstra hati-hati dalam memilih makanan bayi. Dalam masa pertumbuhannya termasuk dalam kategori makanan olahan untuk tujuan gizi khusus (PKGK), termasuk makanan pendamping ASI (MPASI). “Ini berisiko karena target konsumennya adalah konsumen yang rentan yaitu bayi dan anak-anak,” kata Penny dalam keterangannya, Kamis (6/8/2020). — Penny menjelaskan bahwa makanan bayi harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, gizi, label dan iklan. — Persyaratan keamanan meliputi persyaratan polutan (bahan kimia, logam dan mikroorganisme) dan bahan tambahan makanan (BTP). Gizi bermutu dan menengah berkaitan dengan kebutuhan lain untuk unsur hara makro dan mikro (karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral). Persyaratan periklanan mencakup informasi apa pun yang perlu dipertimbangkan dan iklan terlarang untuk produk tertentu.

Makanan bayi, seperti susu formula dan formula lanjutan, tidak boleh diiklankan di media massa.

Baca: Orang tua anak sembelit tidak akan panik saat konsumsi MPASI tahap awal, harap mengacu pada petunjuk dokter

Selain itu, dijelaskannya bahwa pilihan makanan bayi sudah memiliki izin edar resmi, yang membantu mempermudah Pilihan makanan bayi dan anak. Apabila ditemukan izin usaha tidak diedarkan (TIE) pangan, Badan POM dapat memberikan sanksi kepada pelaku usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penny mengatakan: “Untuk produk yang memang melanggar produk akan disuruh ditarik dari peredaran dan dapat dimusnahkan.” Dr. Ameetha Drupadi, Kepala BPOM, memberikan nasehat kepada para ibu yang ingin memilih MPASI terbaik untuk anaknya.

“Harus kaya energi, protein, dan mikronutrien. Ameetha mengatakan harus bersih dan aman. Saat menyajikan makanan, tidak boleh terlalu panas atau terlalu asin / pedas. Jadi sekarang, ibu perlu bijak Bayi dan anak kecil memilih makanan, terutama untuk anak yang belum terbiasa dengan pola makan, makanan tambahan, ”kata Ametha.