Reporter Tribunnews.com Laporan Reynas Abdila-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Sekretaris Jenderal Serikat Pengusaha Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan, rencana energi hijau pemerintah untuk biodiesel B30 tidak kondusif bagi produsen minyak sawit. Hal tersebut disampaikan dalam agenda diskusi online monopoli industri biodiesel terhadap industri dalam rencana B30 pada Jumat (14/8/2020).

“Dari hulu ke hilir dikuasai oleh perusahaan minyak milik konglomerat,” kata Dato .

Selain itu, dia mengatakan sebagian besar bahan baku industri biodiesel didatangkan dari perusahaan asing di Malaysia.

“Mereka lebih besar dari produsen minyak sawit Indonesia. Ada bukti bahwa tanpa produsen minyak sawit, dana sawit dan rantai pasok biodiesel industri biodiesel hanya akan menguntungkan perusahaan sawit,” jelasnya. Para petani kelapa sawit selamat dari pandemi dengan menjual kredit RSPO. Harga tahunan minyak sawit (BPDP-KS) yang digunakan untuk mengembangkan program biodiesel nasional adalah Rp 20 triliun.

Menurutnya, strategi ini hanya akan menguntungkan perusahaan besar, tetapi produsen sawit kecil semakin sedikit. Presiden sedang merevisi Badan Dana Minyak Sawit (BPDP-KS) menjadi badan independen daripada diakuisisi oleh kelompok kelapa sawit. “Ditengarai merugikan negara. Selain itu, perlu melibatkan daerah dan petani di BPDP-KS dan pengorganisasian Dana Kelapa Sawit sebagai Dana Alokasi Khusus (DAK) -produsen minyak sawit mensyaratkan kenaikan 30% dalam rencana penyediaan biodiesel B30. Itu tidak mencapai 100% sampai tahun keempat. “Tata kelola kelapa sawit yang lebih baik di Indonesia akan membantu meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit hingga 30%. Dengan demikian, produsen kelapa sawit dapat mengentaskan kemiskinan sekaligus memperbaiki tata kelola kelapa sawit di Indonesia.