Laporan Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Pengembang real estate PT Intiland Development Tbk menggelar Rapat Umum Tahunan (RUPS) tahun buku 2019 di Intiland Tower, Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Archoed Noto Pradono, Direktur Manajemen Modal dan Investasi Intiland, mengatakan perseroan memutuskan tidak membagikan dividen atas laba yang diperoleh pada 2019.

“Seluruh laba bersih yang direalisasikan perseroan akan digunakan sebagai laba ditahan. Surplus sebesar 24,94 miliar rupee. Sisa 20 miliar rupee akan digunakan sebagai cadangan,” kata Archied.

Baca: RUPST Telkom punya dividend payout ratio 81,78% untuk tahun buku 2019, dan Telkom sudah bagikan dividen Rp 15,26 miliar-Archied mengakui industri real estate menjadi salah satu industri yang paling terdampak pandemi Covid-19.

Menurutnya, banyak konsumen dan investor agen real estat cenderung menunggu situasi membaik dan memilih untuk menunda pembeliannya.

“Hampir semua developer menghadapi banyak tantangan. Kenaikan tajam, termasuk dampak pandemi Covid-19. Kalaupun daya beli pasar masih ada, konsumen tetap akan memilih untuk menunda pembelian atau berinvestasi,” ujarnya. “Penjualan real estate masih didominasi oleh pasar pengguna akhir, terutama di pasar kelas bawah. “.

Menghadapi tantangan yang dihadapi industri real estate, perseroan masih berhasil mempertahankan kinerja usahanya .

Hingga akhir triwulan I tahun ini, perseroan berhasil meraih pendapatan usaha sebesar Rp 830,6 miliar, turun dibandingkan dengan Pada tahun 2019 sebesar Rp 887 menjadi Rp 6 miliar atau meningkat sebesar 6,4%. Penurunan ini terutama disebabkan adanya penurunan pengakuan pendapatan pada bangunan serba guna dan bertingkat tinggi serta kawasan hunian. Rekor tersebut merupakan kontribusi terbesar yaitu mencapai Rp 546,8 miliar, Menyumbang 82,3% dari total.

Akuisisi ini berasal dari departemen pengembangan mixed-use dan high-rise senilai Rp 455,1 miliar dan Rp 91,7 miliar di kawasan pemukiman. – “Pada kuartal pertama tahun ini, kami dan saya juga menjual Surabaya Sebidang tanah 3,2 hektar senilai 58,3 miliar rupiah. “Tanah ini masuk dalam kategori inventaris dan bukan merupakan aset utama untuk dikembangkan dalam waktu dekat,” kata Archied.