Reporter Tribunnews.com Glary Lazuardi

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Nusa Tenggara Timur dapat menjadi contoh produksi garam. NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan industri garam nasional, terutama industri garam industri.

Politikus Partai Demokrat Nasional (NasDem) Rahmat Gobel mengatakan bahwa pemerintah Indonesia harus bekerja keras untuk mengurangi ketergantungannya pada impor garam dengan memproduksi garam di negara tersebut. — “Manufaktur lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Misalnya, NTT dapat menghasilkan 1 juta ton.” Katanya, Jumat (20 Maret 2020) untuk menghubungi Tribunnews.com.

Baca: Hasil Penelitian, Pasien 4 Kepulauan Riau Tertular 4 Kasus Virus Corona dan Dihubungi 131 Orang

NTT merupakan Kepulauan dari 1.192 pulau, 432 di antaranya punya nama, ada yang tidak bernama. 42 pulau berpenghuni dan 1.150 pulau tidak berpenghuni, tiga pulau utama adalah Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor.

Baca: Republik Demokratik Rakyat Tiongkok menyerukan kepada pemerintah untuk memperluas fasilitas sanitasi guna mengatasi pandemi corona di Indonesia

Luas wilayahnya mencapai 48.718,10 kilometer persegi, terhitung 2,49% dari e-region Indonesia dan 2,49% dari total luas Indonesia. Wilayah perairan di luar Zona Ekonomi (ZEE) ± 200.000 km² berpotensi untuk pengembangan industri garam negara.

Industrialisasi garam tidak hanya terkait dengan pembangunan kolam garam, tetapi juga untuk pembentukan zona lingkungan yang indah, yang berkontribusi pada pembangunan kolam garam. Lingkungan sekitar .———————————————————————————————————————————————– Izin hanya boleh diberikan kepada para pengusaha yang benar-benar ingin membuat kolam garam untuk menghasilkan bahan baku untuk industri garam di bagian timur rawa garam, Tenggara. Perusahaan yang mengizinkan pembangunan kolam garam diberikan izin. Katanya.

Saya berharap industri bahan baku garam bisa diproduksi di dalam negeri dari 3 menjadi 4 juta ton per tahun. -Selain itu, menurutnya pemerintah harus memberikan insentif kepada pengusaha yang serius membangun ladang garam, karena ini akan membantu pemerintah mengurangi Ketergantungan impor. Berlangsung selama beberapa tahun sehingga mereka yakin tidak mengalami kerugian, dan mereka yang membangun tambak tidak diberi insentif, tetapi memberikan insentif kepada pedagang (importir), tetapi ini tidak adil, “katanya. Ditambahkan. KKP) Aryo Hanggono mengatakan bahwa kandungan minimum NaCl dari garam mentah industri harus lebih tinggi dari 97%. “Sejauh ini, kandungan natrium klorida dalam garam rumah tangga masih kurang dari 97%,” kata Aryo.