Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila melaporkan – Jakarta TRIBUNNEWS.COM – Komisi Pengawas Persaingan Perdagangan (KPPU) telah mulai menyelidiki tuduhan praktik penetapan harga jual kartel (BBM) oleh lima pelaku bisnis di industri ini. Juru bicara dan komisioner KPPU mengatakan: “Kecurigaan dimulai dengan penurunan harga bahan bakar yang tidak disubsidi untuk perusahaan ritel BBM sejak Maret 2020, meskipun harga pemasok bahan bakar global telah turun sejak awal tahun ini.” Guntur Saragih mengatakan, Selasa (19 / Menurutnya, KPPU mengumpulkan semacam alat bukti sebagai dasar penegakan hukum, “jelasnya.

Baca: Lima perusahaan minyak yang diduga terlibat kartel BBM, KPPU Minta Tas Buktinya – Dalam memperdalam kecurigaan akan penetapan harga dan koordinasi, KPPU juga mencermati sifat oligarki pasar struktural di sektor ritel BBM – Menurut Guntur, jumlah peserta komersial terbatas dan potensi pelanggaran persaingan dagang cukup tinggi. – Baca : Garuda Indonesia bisa suntik Rp 8,5 miliar dan Krakatau Iron and Steel Co. menyuntikkan Rp 3 miliar-KPPU juga mencatat apakah situasi ini disebabkan oleh price leadership Pertamina. -Sebagai catatannya, Pertamina Bergantung pada kapasitas distribusinya atau jumlah SPBU, SPBU menguasai 98,3% dari seluruh pasar penjualan bahan bakar Informasi untuk staf medis-Pada saat yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif (Arifin Tasrif) Dikatakan bahwa meski harga minyak mentah dunia turun, harga bahan bakar minyak (BBM) tetap tidak turun.

Hal tersebut disampaikannya dalam rapat kerja yang digelar di Jakarta dan Panitia Ketujuh Virtual House, Senin (5/4/2020). Pertimbangan ini karena pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia yang tidak stabil atau sangat fluktuatif, kata Ariffin Pemerintah masih menunggu pengurangan produksi OPEC + dari Mei 2020 hingga Juni 2020 untuk diturunkan pada 2020. Dampak penurunan harian 7,7 juta barel dari Juli hingga Desember dan penurunan 5,8 juta barel per hari dari 20 Januari 2020 hingga April 2020. Ia mengatakan: “Oleh karena itu, harga bahan bakar jangka panjang Indonesia tidak akan lebih mahal dari ASEAN. Ada Singapura dan Laos. “