Laporan wartawan Tribunnews.com Hari Darmawan-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menyikapi standar baru di sektor transportasi.

Pada tanggal 10 November, Bapak Ashari, direktur institut tersebut, mengatakan bahwa di bidang transportasi, teknologi harus diintegrasikan untuk menghadapi keadaan normal baru ini. , Selasa (2/6/20200).

Baca: Pokja Minta Masyarakat Tak Tunggu Vaksin Covid-19

Baca: Kementerian Perhubungan telah memperpanjang larangan pulang kampung hingga 7 Juni 2020

Menurut Ashari, terkait teknis dan transportasi Kombinasi, seperti penggunaan sensor suhu yang dikombinasikan dengan pencitraan termal. Ashari berkata: “Tidak perlu memeriksa semua orang yang akan naik transportasi umum.” Menurutnya, sensor suhu dan pencitra termal dapat memantau suhu setiap pengguna dalam kerumunan atau seseorang.

“Tentu saja, ini menjadi sangat fleksibel., Dan meminimalkan kontak erat antara pengguna transportasi dan pemantau suhu tubuh,” kata Ashari.

Selain itu, Ashari terus mengatakan bahwa sensor tersebut dapat dengan mudah mencegah orang menggunakan kendaraan umum ketika suhu tubuhnya di atas rata-rata. Karena dipantau sebelum masuk kendaraan.

“Kalau begitu, menghadapi normal baru angkutan umum, pengguna juga harus yakin tidak akan tertular virus,” kata Asari. Pertimbangkan untuk mensterilkan perubahan penumpang untuk meminimalkan risiko penyebaran.

Saat transmisi semacam ini terjadi, maka dapat mengubah penumpang yang biasa duduk di kursi atau mengambil benda di dalam kendaraan.

“Alat sterilisasi jenis ini dapat dikatakan Ashari bahwa penggunaan sinar ultraviolet (UV) dapat meminimalisir penyebaran virus. Virus ini dapat diaplikasikan pada bagian-bagian kendaraan yang sering dipegang oleh pengguna angkutan umum, seperti kursi atau pintu. menangani.