Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Mengingat bahwa Pertamina tunduk pada berbagai peraturan, sikap PT Pertamina (Persero) untuk tidak mengurangi harga bahan bakar (BBM) dalam hal harga minyak dunia atau bahkan jatuh dianggap wajar. Yang pertama terkait dengan penyesuaian harga bahan bakar pemerintah di kilang minyak dan operasi sumur minyak.

Ketika harga minyak mentah turun, Pertamina adalah kegiatan yang dipengaruhi oleh hulu, tetapi tidak terpengaruh oleh hilir dan hilir.

Baca: Loyalitas Nedved kepada Juventus membuktikan bahwa Inter Milan dan Mourinho tidak pernah menolak untuk membaca: BPS mencatat tingkat inflasi 0,08% pada bulan April, tertinggi di kota

tetapi Pertamina Status hilir dalam keadaan normal, karena permintaan konsumsi bahan bakar juga menurun.

Mamit Setiawan, direktur eksekutif Energy Watch, mengatakan bahwa menentukan harga jual bahan bakar tidak hanya tergantung pada harga minyak mentah, tetapi juga pada biaya operasi bisnis dan aspek lainnya. Agar kegiatan bisnis dapat terus beroperasi secara normal, ini harus diperhitungkan.

Bahkan, harga jual BBM Pertamina saat ini dibeli dua atau tiga bulan lalu. Karena itu, kita hanya dapat melihat satu variabel. Karena itu, Anda harus melihat semua unit bisnis yang dipimpin oleh Pertamina-termasuk, biaya Pertamina juga sangat besar. Ini terkait dengan kondisi geografis yang sangat sulit di Indonesia.

“Kami tidak bisa membandingkan harga bahan bakar Indonesia dan Malaysia. Daerah yang berbeda memiliki biaya distribusi yang berbeda. Karena itu, banyak biaya variabel yang disebabkan,” kata Mamit dalam sebuah pernyataan, Minggu (3/5).

Menurut Mamit, faktor-faktor ini pasti membuat kondisi Pertamina lebih buruk. Apalagi saat ini, permintaan bahan bakar juga sangat berkurang.

Ini juga berbeda dari aktor swasta lainnya, jadi Anda harus sangat berhati-hati saat mengambil keputusan.