Reporter Tribunnews.com Yanuar Riezqi Yovanda melaporkan-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-PT Bosowa Corporindo mempertanyakan permintaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengupayakan agar PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) meningkatkan kinerja.

Chief Financial Officer Bosowa Corporindo Evyana Mukti mengatakan informasi pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 Agustus 2020 dinilai aneh.

Alasannya adalah penyajian data yang tidak konsisten. Dalam RUPSLB, satu-satunya arahan adalah memperbaiki kondisi keuangan bank.

“Tidak jelas bagian mana dari situasi keuangan bank, seperti rasio kecukupan modal (RCA). Data menunjukkan ada inkonsistensi. Misalnya, RCA masih menggunakan Desember 2019. Memang, posisi RCA 2019 sama dengan 2018 Ini mengalami penurunan dibanding tahun, “ujarnya. Dia mengatakan kepada wartawan, Kamis (27/8/2020).

Namun, lanjut Ivey, setelah dilakukan penawaran umum terbatas (PUT), sebenarnya posisi Zhongya Auto turun dari 10,89% pada Desember 2019 menjadi 14% pada 30 Juni 2020. V).

Baca: Bosowa: Ada Pelanggaran dalam Rapat Umum Luar Biasa Bank Bukopin

Di sisi lain, data posisi likuiditas atau rasio pinjaman / simpanan (LDR) menunjukkan bukan dari Desember 2019 Awal bulan mirip dengan CAR, namun menurut data Juni 2020 bisa mencapai 100% atau 113,62%.

Baca: OJK Setujui Bank Korea Menjadi Pemegang Saham Pengendali Bank Bukopin

“Data keterbukaan informasi termasuk Juni di satu sisi, menggunakan data Juni 2020 sebagai data 2020, di sisi lain, menggunakan 2019 Data Desember dinilai tidak konsisten, ”kata Evy.

Untuk itu, tambahnya, Bosova terus mempertanyakan situasi keuangan bank yang mana yang harus dikoreksi karena masalah Bukopin sebenarnya adalah likuiditas.

“Likuiditas kemudian digunakan untuk bagian settlement, yang seharusnya mempercepat penambahan alokasi dana pihak ketiga atau pelunasan utang. Namun, itu sebenarnya menyelesaikan masalah ekuitas atau masalah permodalan, sehingga LDR belum benar-benar pulih. Kita sudah dari awal Tidak setuju dengan RUPS, ”pungkasnya.