Reporter Tribunnews.com Yanuar Riezqi Yovanda melaporkan-Jakarta-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyatakan bahwa pandemi corona atau Covid-19 mempengaruhi pembayaran angsuran kredit oleh nasabah lembaga jasa keuangan. -Direktur Utama Pefindo Yohanes Arts Abimanyu mengatakan, secara keseluruhan jumlah nasabah yang berisiko tinggi dan berisiko tinggi mengalami peningkatan, atau sulit untuk membayar simpanan.

Ini berdasarkan perhitungan yang dibuat oleh bank umum, bank pembangunan daerah (BPD), bank perkreditan rakyat (BPR) dan perusahaan keuangan.

Lihat juga: Nasabah yang kesulitan membayar uang muka kepada perusahaan keuangan berkembang pesat- “Dalam kategori risiko tinggi dan risiko sangat tinggi (tinggi dan sangat tinggi), persentase risiko total debitur tetap tinggi. Pada Juli 2020 rata-rata akan melebihi 40% “, ujarnya dalam webinar, Kamis (15/10/2020).

Yohanes merinci per Juli 2020, kategori berisiko tinggi dan risiko sangat tinggi. Persentase total debitur adalah 45,2%.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dibandingkan dengan ini, angka ini telah meningkat sebesar 3,2%. Hingga Desember 2019, angka tersebut telah mencapai 41,2%.

“Kesimpulannya jumlah persentasenya terus meningkat, terutama mulai Maret 2020, untuk kategori debitur risiko tinggi dan risiko sangat tinggi,” pungkasnya.