Reporter Kontan Ridwan Nanda Mulyana melaporkan-TRIBUNNEWS.COM di Jakarta, Freeport Indonesia-Indonesia (PTFI) mengingat proyek smelter tembaga yang sedang dibangun telah menyebabkan kerugian finansial.

Direktur Utama PTFI Tony Wenas menjelaskan. Proses ekstraksi dimulai dari bijih, yang kemudian diubah menjadi konsentrat tembaga.

Nilai tambah dari pengolahan bijih menjadi konsentrat mencapai 95%.

Selama periode ini, perlakuan konsentrat dengan katoda tembaga di pengecoran memiliki nilai tambah paling rendah, hanya 5%.

“Ya ini rugi. Saya bilang untung itu menyesatkan.” Ujar Tony dalam webinar, Jumat (4/9/2020).

— Tony menjelaskan Dikatakan bahwa pengecoran akan memperoleh pendapatan melalui biaya pemrosesan dan pemurnian (TCRC).

Baca: Ekonom Faisal Basri: Saat pengecoran Cina masuk ke Indonesia, ekonomi Indonesia ambruk-biasanya harga TCRC hampir berlaku di seluruh dunia Sekitar 20 sen hingga 24 sen per ton tembaga, nilai tembaga tidak berubah dalam 20 tahun terakhir. Namun, ketika pandemi Covid-19 pecah pada awal Maret, harga turun menjadi 18 sen per ton.

Baca: Rico Sia: Jika pembangunan pengecoran ditunda hingga 2024, Indonesia bakal rugi. Tony menghitung, proyek smelter tembaga membutuhkan investasi 3 miliar dolar AS, sehingga nilai ekonomis TCRC harus mencapai 60 sen per ton.