JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Saat pandemi Covid-19, pengelola dana pensiun (dapens) harus ekstra hati-hati saat mengelola investasi.

Jika tidak, nilai aset investasi akan turun, yang akan mempengaruhi kecukupan aset investasi. pensiun. — Secara alamiah, gejolak pasar saham dan obligasi akibat dampak pandemi Covid-19 telah menyebabkan nilai aset investasi merosot. Lalu, misalnya, total investasi pensiun turun menjadi Rp 268,97 miliar. Padahal, hingga akhir tahun lalu, total aset investasi dana pensiun masih Rp 282,64 miliar.

Sebenarnya menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai aset investasi Dapeng kembali naik pada Agustus lalu mencapai Rp 286,9 triliun

namun, dalam pengelolaan investasi yang tidak menentu, Apabila keadaan kurang hati-hati diketahui maka diukur kesehatan pensiun yang salah satunya adalah rasio kecukupan dana (RKD), yaitu kemampuan aset pensiun dalam memenuhi kewajiban aktuaria nilai kini atau komitmen dana pensiun. Ini dihitung berdasarkan asumsi berikut: pensiun berlanjut sampai semua kewajiban peserta dan penerima terpenuhi.

Singkatnya, rasio dana pensiun terkait erat dengan kemampuan pensiun untuk membayar pensiun jangka panjang. Batas pensiun RKD adalah 100%. Dapeng punya dana yang cukup, artinya kalau RKD 100% lebih pasti ada dana.

Jika RKD kurang dari 100%, berarti dana pensiun tidak memiliki kemampuan pembiayaan yang cukup untuk memenuhi kewajibannya yaitu tidak ada dana.

Baca: Tapen Jamin Terwujudnya Dana Pensiun yang Aman

Oleh karena itu, Dapen seperti Dapen BTN telah melakukan banyak langkah sejak kuartal kedua untuk meramalkan dan melindungi aset investasi.