Laporan Reporter Tribunnews.com Reynas Abdila

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Pusat Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Pajajalaran Ilmu dan Teknologi Unggul (PUIIPK Unpad) melakukan penelitian tentang penerapan Produk Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL). Alternatif ini diyakini efektif dalam mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok. -Peneliti utama Auliya A Suwantika mengatakan bahwa produk tembakau alternatif dapat memberikan berbagai pilihan profil risiko, dari produk yang mengandung tembakau tanpa asap hingga produk nikotin yang tidak terbakar atau terbakar tanpa tembakau. -Membaca: Menyerap 5,5 juta ng tembakau dianggap ideal dan menyederhanakan cukai hasil tembakau-Bacaan: Kebijakan cukai 2021 menentukan nasib produk tembakau di industri tembakau- “Kalau tidak ada kecelakaan, HPTL Resiko ekspektasi atau efek samping (ADE) lebih kecil dibanding produk konvensional. ”Kata Auliya dalam webinar faktor. Senin (28/9/2020) untuk mengurangi risiko pengolahan tembakau di Indonesia. Ia mengatakan dalam penelitian tersebut metode pengurangan risiko dapat digunakan untuk mengatasi prevalensi perokok dewasa di Indonesia yang mencapai 33,8%, seperti dijelaskan dalam “Data Riset Kesehatan Dasar 2018”.

“Produk HPTL yang telah kami ulas, seperti rokok elektronik (EC), sistem pemanas tembakau (HRT), dan SNUS, mungkin berperan dalam mengurangi merokok dan berhenti merokok. HPTL dapat menyebabkan kecelakaan atau AE, tetapi secara umum Dengan kata lain, nilai risiko HPTL pada AE lebih rendah dibandingkan pada rokok tradisional, ”kata Auliya. Studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

“20 studi produk EC telah menyimpulkan bahwa EC efektif dalam mengurangi dan menghentikan merokok. Namun demikian, dilaporkan bahwa penggunaan EC terkait erat dengan beberapa AE.

Lima studi telah menyimpulkan bahwa , Penggunaan EC dapat ditoleransi, tetapi efektivitasnya tidak jelas.