Reporter Tribunnews.com Lita Febriani melaporkan-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Perindustrian mencontohkan, industri batik saat ini tersebar di 101 sentra yang hampir semuanya sangat kecil. Skala industri.

Dari 101 pusat, ada 47.000. Produk batik memiliki peran penting dalam penciptaan mata uang.Meski sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun volume ekspor produk batik mencapai US $ 17,99 juta pada paruh pertama tahun 2019. — Baca: Seluruh Pejabat dan Pegawai Dinas Desa PDTT Wajib Pakai Batik sebulan penuh

Selama periode yang sama, Januari-Juli 2020, volume ekspor batik meningkat, mencapai 21,54 juta dolar AS atau lebih. Senilai Rs 321 crore. – “Fenomena ini sangat unik karena pasar ekspor bisa meningkat saat pandemi Covid-19. Pasar ekspor utama kita untuk batik adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian. Acara tersebut sebenarnya merupakan peringatan hari batik nasional pada Jumat (02/10/2020). -Kementerian Perindustrian terus memimpin upaya untuk membuka pasar baru di seluruh dunia. –Baca: Kementerian Perdagangan: Pariwisata mendukung tata niaga terbaik-ini akan membantu merevitalisasi kinerja industri batik Indonesia dan semakin memperkenalkan batik Indonesia.

“Dari kondisi yang ada, batik tidak hanya menjadi warisan budaya bangsa, tetapi juga merupakan produk industri yang penting. Argus menjelaskan bahwa industri dianggap berdampak pada penciptaan nilai tambah, perdagangan, investasi, dan industri lainnya. Kecepatan penetrasi pasar berdampak besar.