Jakarta TRIBUNNEWS.COM-PT Bank Central Asia Tbk (BCA) telah mengeluarkan suara atas bocoran dokumen intelijen AS-Financial Crime Enforcement Network (FinCEN), yang kemudian disebut dengan “FinCEN Document”. -Untuk informasi, dokumen berisi transaksi aneh dari bank global mencantumkan nama bank Indonesia. -Hera F. Haryn, Executive Vice President Sekretariat BCA dan Corporate Communications Department, menyatakan partai politiknya senantiasa menaati ketentuan Undang-Undang Pelaksanaan Program Anti Pencucian Uang. Uang dan pencegahan. Hera menghubungi Kompas.com pada Rabu (23/9/2020) dan mengatakan: “Dana terorisme (APU dan PPT) sedang berbisnis.

” BCA juga memantau seluruh transaksi nasabah yang dilakukan oleh regulator sesuai dengan ketentuan tersebut. “

Hera mengatakan bank dengan kode nama BBCA ini akan terus melakukan langkah-langkah mitigasi dan evaluasi, salah satunya terkait pencucian uang. — Hera mengatakan evaluasi ini didasarkan pada upaya Penera memberantas pencucian uang dan mencegah terorisme. Sesuai ketentuan rencana pembiayaan syariah.

Pihaknya tidak segan-segan bekerjasama dengan semua pihak terkait untuk mencegahnya menyimpulkan: “Pencucian uang dan pendanaan terorisme.

“Perusahaan bersedia bekerja sama dengan semua pihak untuk menghindari konflik dengan regulasi nasional dan hukum internasional yang berlaku.” Bocoran dokumen FinCEN menunjukkan adanya sejumlah dana aneh yang mengalir keluar atau mengalir ke Indonesia melalui bank-bank besar dengan nilai yang sama yaitu sebesar 504,65 juta Dolar AS, sekitar 7,46 triliun rupiah.

Lebih rinci, nilai uang yang masuk ke Indonesia adalah US $ 214,9 juta, sedangkan dana yang ditransfer dari Indonesia mencapai US $ 281,6 juta.