JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Dugaan penyelundupan fillet ikan melalui utara Jakarta melibatkan banyak individu. Kasus yang ditemukan pada Agustus ini masih dalam penyelidikan. – “Saat ini penyidikan sedang dilakukan KKP dan kepolisian,” kata Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. -Haeru (Haeru) mengatakan dalam diskusi bertema “Perikanan Kita dan Nasib Nelayan dalam Pandemi” di Concourse MNC Trijaya, Kamis (9/03/2020) .— Baca: Menteri Kelautan Masalah Doliyu adalah kontroversi Petin – Haru tidak akan menyebutkan kapal nasional mana yang menyelundupkan. Dia berjanji akan mengumumkan hasil investigasi secara terbuka pada konferensi pers. “Tinggal menunggu tanggal pertandingan,” kata Haeru. –Tapi yang jelas, banyak pihak yang melakukan aksi kotor ini.

Baca: 6 Masakan Palembang Di Luar Pempek, Coba Dangdang Patin Pedas dan Asin- “Konon Mereka Masuk Pelabuhan dan Berlabuh di Tanjung Priok) dan tempat lainnya. ”Menurutnya, banyak orang yang melakukan penyelundupan karena terpancing untung besar. Dia menambahkan: “Penyelundupan ini sepertinya menjanjikan.” – Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Direktorat Sumber Daya dan Perikanan KKP telah menemukan penyelundupan fillet ikan lele secara ilegal di Jakarta Utara. Kemudian dari pelabuhan Pangkal Balam (Pangkal Balam) di Tanjung Pinang, Bangka Belitung .

Fillet ikan lele beku atau ikan dori yang dibawa oleh KM Slavia dan KM Sawita Dari Sumatera ke Jakarta. Ada truk peti kemas yang mengangkut hampir 55 ton jaring ikan dengan nilai sekitar Rp 2,7 miliar. -Saat ini diduga produk tersebut bukan dari Indonesia. Pasalnya, ikan lele lokal memiliki ciri khas berupa garis merah pada tubuhnya.