TRIBUNNNEWS.COM-Membeli tanah dari tanah warisan biasanya membawa risiko yang lebih besar daripada membeli tanah.

Risiko ini terutama karena sertifikat tanah warisan masih atas nama ahli waris atau orang yang telah meninggal dunia, meskipun ahli waris mungkin ingin menjual tanah warisan secepatnya untuk dibagikan kepada keluarga ahli waris.

Untuk membeli tanah warisan yang rawan risiko, perlu perhatian khusus terutama pada saat pemeriksaan obyek (tanah) dan sasaran (penjual).

Selain inspeksi umum yang berkaitan dengan real estat, seperti keberadaan jaminan utang, perselisihan, transfer, dll., Masalah pokok juga harus dianggap perlu. -Mempertimbangkan tujuan jual beli tanah warisan, termasuk apakah identitas antara sertifikat tanah dan sertifikat kematian (yaitu ahli waris) sudah cukup dan persetujuan dari semua ahli waris untuk menjual tanah warisan. -Hal pertama yang harus dilakukan dalam pemeriksaan pembeli adalah menyesuaikan identitas antara sertifikat tanah dan sertifikat kematian.

Kedua dokumen ini harus bisa menggambarkan bagian yang sama antara pemilik tanah. Menurut sertifikat dan tanah orang mati.

Nanti, kecukupan kedua dokumen ini dapat mengarah pada kesimpulan bahwa almarhum sebenarnya adalah pemilik tanah. Ahli Waris Anda harus tahu bahwa karena hukum membagi ahli waris menjadi beberapa jenis ahli waris, maka perlu ditentukan siapa ahli warisnya.

Pergi ke halaman 2 ==>